Sektor perhotelan di Kota Surabaya tengah menghadapi tantangan serius pada awal tahun 2026. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berlanjut dari tahun 2025 memberikan dampak signifikan terhadap performa hotel, terutama di kota-kota yang mengandalkan kegiatan bisnis dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition).
Dampak Efisiensi Anggaran terhadap MICE
Menurut Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, kondisi di Surabaya serupa dengan Jakarta yang masih tertekan oleh penghematan anggaran pusat. Banyak agenda pemerintah yang ditunda dan skala acara MICE yang diperkecil, sehingga memengaruhi okupansi hotel secara langsung pada paruh pertama tahun ini.
“Surabaya sangat bergantung pada tamu bisnis dan kegiatan instansi. Ketika anggaran ditekan, hotel-hotel di sini harus berjuang lebih keras untuk menjaga angka keterisian kamar,” ujar Ferry dalam Colliers Virtual Media Briefing Q4 2025.
Analisis Pasokan Hotel 2025–2028
Pertumbuhan pasokan hotel baru di Surabaya diprediksi akan berjalan sangat lambat hingga tahun 2028. Berdasarkan data terbaru, hanya ada sedikit penambahan properti baru:
-
Tahun 2025: Resmi beroperasi Excotel Design Hotel Surabaya (111 kamar) di Surabaya Selatan dan aLoft Hotel (233 kamar) di Pakuwon City Mall 2.
-
Tahun 2026: Dijadwalkan hadir The Trans Luxury Hotel di Surabaya Selatan dengan kapasitas 200 kamar.
Menariknya, hotel bintang 4 menjadi “tulang punggung” pasar di Surabaya. Segmen ini dianggap paling ideal karena menawarkan harga yang kompetitif bagi pasar domestik yang sensitif terhadap biaya, namun tetap memenuhi standar kebutuhan pelancong bisnis.
Mengapa Pelaku Hotel Harus Adaptif?
Kondisi ekonomi yang dinamis menuntut hotelier di Surabaya untuk tidak lagi hanya mengandalkan pesanan langsung dari instansi pemerintah. Berikut adalah beberapa langkah strategis yang perlu diambil:
1. Optimalisasi Online Travel Agent (OTA)
Data menunjukkan bahwa sepertiga dari total pemesanan hotel di Surabaya berasal dari OTA. Platform digital menawarkan harga yang lebih transparan dan metode pembayaran yang fleksibel bagi tamu individu maupun korporasi. Hotel yang memiliki manajemen inventaris yang baik di OTA akan memiliki peluang bertahan lebih tinggi.
2. Inovasi Paket F&B dan Event Creative
Selain mengandalkan sewa kamar, hotel perlu memaksimalkan pendapatan dari sektor Food and Beverage (F&B). Mengemas paket pernikahan kecil (intimate wedding), promo makan siang bisnis, atau acara komunitas dapat menjadi alternatif pendapatan di tengah lesunya kegiatan besar pemerintah.
3. Transformasi Digital dan Personalisasi Layanan
Di era yang serba cepat ini, penggunaan teknologi seperti mobile check-in atau layanan pelanggan berbasis AI dapat meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, personalisasi layanan bagi tamu setia akan membantu membangun loyalitas merek, sehingga hotel tidak hanya bergantung pada tren pasar musiman.
Proyeksi Masa Depan Hotel di Surabaya
Meskipun pertumbuhan melambat jika dibandingkan dengan Jakarta dan Bali, Surabaya tetap memiliki potensi jangka panjang sebagai hub bisnis di Indonesia Timur. Kehadiran The Trans Luxury sebagai hotel bintang 5 di tahun 2026 menunjukkan bahwa masih ada kepercayaan investor terhadap segmen premium, meskipun pasokannya terbatas.
Adaptivitas adalah kunci utama. Pelaku usaha yang mampu membaca pergeseran perilaku konsumen—dari yang tadinya berbasis anggaran pemerintah menjadi berbasis kenyamanan dan teknologi—akan menjadi pemenang di pasar yang kompetitif ini.
Kesimpulan: Tahun 2026 memang bukan tahun yang mudah bagi industri perhotelan di Kota Pahlawan. Namun, dengan penguatan strategi digital melalui OTA dan diversifikasi produk layanan, hotel di Surabaya tetap memiliki peluang besar untuk terus tumbuh secara berkelanjutan.