Dark Mode Light Mode

Mengapa Hotel di Setiap Negara Punya Karakter Berbeda? Membaca Pengaruh Budaya, Sejarah, dan Alam dalam Hospitality

Vila NIHI Sumba dengan kolam renang dan arsitektur tradisional di tengah alam Vila NIHI Sumba dengan kolam renang dan arsitektur tradisional di tengah alam
Vila NIHI Sumba dengan kolam renang dan arsitektur tradisional di tengah alam

Hotel di berbagai negara tidak selalu menawarkan pengalaman yang sama. Cara menyambut tamu, desain bangunan, pilihan makanan, aktivitas, hingga suasana yang ditawarkan dapat dipengaruhi oleh karakter tempat hotel tersebut berada.

Perbedaan itu tidak muncul begitu saja. Budaya, sejarah, kondisi alam, dan gaya hidup masyarakat ikut membentuk cara sebuah destinasi mengembangkan hospitality. Karena itu, hotel dapat menjadi lebih dari sekadar tempat untuk bermalam. Di dalamnya, identitas lokal dapat hadir melalui pengalaman yang diterima tamu.

Lalu, bagaimana karakter tersebut terlihat dalam industri hotel di berbagai negara?

Jepang — Omotenashi dan Perhatian pada Detail

Salah satu karakter hospitality Jepang yang paling dikenal adalah omotenashi, yaitu budaya memberikan perhatian kepada tamu secara menyeluruh tanpa sekadar berorientasi pada imbalan. Japan National Tourism Organization menjelaskan bahwa konsep ini berakar dari budaya seperti sado atau upacara minum teh dan dapat ditemukan dalam berbagai pengalaman, termasuk ryokan dan kaiseki.

Karakter tersebut membuat pengalaman menginap di Jepang tidak hanya bergantung pada fasilitas hotel, tetapi juga bagaimana detail pelayanan diberikan kepada tamu. Hal ini terlihat jelas pada ryokan yang mempertahankan elemen seperti tatami, futon, yukata, onsen, serta hidangan kaiseki sebagai bagian dari pengalaman menginap.

Advertisement

Hotel Aman Tokyo dengan kolam renang dan pemandangan kota saat matahari terbenam
Hotel Aman Tokyo dengan kolam renang dan pemandangan kota saat matahari terbenam

Salah satu contoh hotel modern yang membawa unsur tersebut ke konteks perkotaan adalah Aman Tokyo. Hotel ini memadukan desain modern dengan elemen yang terinspirasi dari estetika Jepang dan menghadirkan suasana yang kontras dengan kepadatan kota Tokyo. Aman Tokyo juga menempati peringkat ke-11 dalam The 50 Best Hotels 2026.

Italia — Sejarah dan Gaya Hidup sebagai Bagian dari Pengalaman Menginap

Di Italia, karakter hospitality banyak bersinggungan dengan sejarah, arsitektur, seni, makanan, dan gaya hidup. Bangunan bersejarah tidak selalu dipisahkan dari perkembangan hotel modern. Sebaliknya, karakter bangunan tersebut dapat dipertahankan dan menjadi bagian dari pengalaman tamu.

Baca Juga :  Bigland Hotel Bogor: Penginapan Nyaman di Jantung Kota Bogor
Hotel Passalacqua bergaya klasik dengan taman tropis dan lanskap perbukitan di sekitarnya
Hotel Passalacqua bergaya klasik dengan taman tropis dan lanskap perbukitan di sekitarnya

Salah satunya adalah Passalacqua di Lake Como. Hotel ini menempati sebuah properti yang berasal dari abad ke-18 dan sejak awal dibangun sebagai tempat untuk berkumpul, menikmati waktu luang, serta menikmati kehidupan di sekitar Lake Como. Konsep tersebut masih menjadi bagian dari identitas Passalacqua hingga saat ini.

Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pengalaman hospitality tidak selalu harus dibangun dari sesuatu yang baru. Sejarah sebuah bangunan juga dapat menjadi bagian dari produk hotel ketika dipertahankan dan diolah menjadi pengalaman bagi tamu. Dalam The 50 Best Hotels 2026, Passalacqua berada di peringkat ke-5 sekaligus mendapatkan penghargaan Best Hotel in Europe dan Best Boutique Hotel.

Singapura — Warisan Sejarah di Tengah Kota Modern

Sebagai negara dengan perkembangan kota yang sangat pesat, Singapura memiliki karakter hospitality yang berada di antara modernitas dan sejarah. Hotel-hotel di negara ini tidak hanya berkembang mengikuti kebutuhan wisatawan modern, tetapi sebagian juga mempertahankan bangunan dan cerita yang telah menjadi bagian dari perkembangan kota.

Raffles Singapore dengan arsitektur kolonial klasik dan taman hijau di bagian depan hotel
Raffles Singapore dengan arsitektur kolonial klasik dan taman hijau di bagian depan hotel

Salah satunya adalah Raffles Singapore, yang pertama kali dibuka pada 1887 sebagai hotel dengan 10 kamar. Seiring perkembangannya, Raffles menjadi salah satu landmark bersejarah Singapura dan menjadi tempat yang dikaitkan dengan berbagai tokoh serta peristiwa dalam perjalanan kota tersebut.

Karakter sejarah tersebut kemudian menjadi bagian dari pengalaman hotel hingga saat ini. Raffles tidak hanya menawarkan akomodasi, tetapi juga mempertahankan elemen arsitektur, taman, gastronomi, dan tradisi pelayanan yang membentuk identitasnya. Hotel ini menempati peringkat ke-17 dalam The 50 Best Hotels 2026.

Uni Emirat Arab — Ketika Hotel Menjadi Sebuah Destinasi

Berbeda dari pendekatan yang banyak menonjolkan sejarah atau tradisi, perkembangan hospitality di Uni Emirat Arab, khususnya Dubai, menunjukkan bagaimana hotel dapat dirancang sebagai destinasi dengan berbagai pengalaman di dalam satu kawasan.

Baca Juga :  Rayakan Kemerdekaan, NEO Malioboro Tawarkan Banyak Promo Menarik
Atlantis The Royal di Dubai dengan arsitektur bertingkat ikonik dan pemandangan laut
Atlantis The Royal di Dubai dengan arsitektur bertingkat ikonik dan pemandangan laut

Salah satunya adalah Atlantis The Royal di Dubai. Properti ini menggabungkan akomodasi dengan restoran, kolam renang, wellness, hiburan, serta berbagai pengalaman lain. Bahkan, situs resminya menempatkan kuliner, kolam renang, wellness, dan hiburan sebagai bagian utama dari pengalaman resor.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana hotel dapat berkembang melampaui fungsi tradisional sebagai tempat menginap. Tamu dapat menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kawasan resor karena berbagai kebutuhan rekreasi dan hiburan tersedia dalam satu destinasi. Dalam The 50 Best Hotels 2026, Atlantis The Royal berada di peringkat ke-4 dan dinobatkan sebagai Best Hotel in the Middle East serta Best Beach Hotel.

Indonesia — Alam dan Budaya Lokal Menjadi Bagian dari Hospitality

Indonesia memiliki karakter hospitality yang sangat beragam karena setiap daerah memiliki kondisi alam, budaya, tradisi, dan gaya hidup yang berbeda. Karena itu, pengalaman hotel di Indonesia sering kali tidak hanya dibangun melalui fasilitas, tetapi juga melalui hubungan dengan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Desa Potato Head Bali dengan kolam renang, area lounge, dan taman tropis
Desa Potato Head Bali dengan kolam renang, area lounge, dan taman tropis

Salah satu contohnya adalah Desa Potato Head di Bali. Properti ini menggabungkan hospitality dengan seni, desain, musik, makanan, wellness, dan komunitas. Pendekatan tersebut membuat hotel tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem kreatif dan sosial di sekitarnya.

Contoh lainnya adalah NIHI Sumba di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pengalaman di NIHI terhubung dengan alam dan budaya Sumba melalui aktivitas seperti kunjungan ke desa, pasar lokal, kerajinan, situs megalitik, hingga pengalaman yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat.

Kedua properti tersebut menunjukkan dua pendekatan berbeda dalam membawa identitas Indonesia ke dalam hospitality. Desa Potato Head banyak menghubungkan hotel dengan kreativitas, seni, desain, dan komunitas, sedangkan NIHI Sumba lebih dekat dengan alam dan budaya lokal. Keduanya masuk dalam The 50 Best Hotels 2026, dengan Desa Potato Head berada di peringkat ke-21 dan NIHI Sumba di peringkat ke-35.

Baca Juga :  Harga Hotel di Bawah Satu Juta dengan View Pantai? Emang Ada?

Hospitality Tidak Memiliki Satu Bentuk

Dari Jepang hingga Indonesia, terlihat bahwa hospitality tidak memiliki satu formula yang berlaku di semua negara. Cara sebuah hotel menciptakan pengalaman bagi tamu dapat dipengaruhi oleh lingkungan tempat hotel tersebut berada.

Di Jepang, perhatian terhadap tamu dan tradisi omotenashi menjadi bagian penting dari pengalaman. Italia membawa sejarah dan gaya hidup ke dalam hotel. Singapura mempertahankan warisan sejarah di tengah perkembangan kota modern. Dubai mengembangkan hotel sebagai destinasi dengan berbagai pengalaman, sedangkan Indonesia banyak memanfaatkan kekayaan alam dan budaya lokal.

Namun, penting untuk melihat contoh-contoh tersebut sebagai gambaran, bukan sebagai representasi mutlak seluruh industri hotel di suatu negara. Setiap hotel memiliki konsep, target tamu, dan pendekatan hospitality yang berbeda.

Ketika Hotel Menjadi Cerminan Destinasi

Pada akhirnya, hotel dapat menjadi salah satu cara untuk memahami karakter sebuah destinasi. Pengalaman yang diberikan kepada tamu tidak hanya terbentuk dari ukuran kamar, jumlah fasilitas, atau kategori bintang, tetapi juga dari cerita yang dibawa oleh hotel tersebut.

Karena itu, ketika seseorang memilih hotel di negara lain, pengalaman yang didapatkan bisa menjadi bagian dari perjalanan mengenal tempat tersebut. Budaya, sejarah, alam, dan gaya hidup tidak selalu hadir sebagai atraksi terpisah. Dalam beberapa hotel, semuanya dapat menjadi bagian dari pengalaman menginap.

Ikuti terus DailyHotels.id untuk mendapatkan informasi dan edukasi seputar hotel, hospitality, destinasi, serta berbagai perkembangan industri pariwisata.

Keep Up to Date with the Most Important News

By pressing the Subscribe button, you confirm that you have read and are agreeing to our Privacy Policy and Terms of Use
Previous Post
Soirée Gigs Vol. 2

SOIRÉE GIGS VOL. 2 Hadirkan Orkes Silampukau dan Pengalaman Kuliner di Four Points by Sheraton Surabaya, Pakuwon Indah

Next Post
Majestic Wedding Fair

Majestic Wedding Fair Resmi Diluncurkan, Hadirkan Lebih Dari 30 Vendor Pernikahan di Swiss-Belinn Manyar Surabaya